Sunday, 4 September 2016

Eretz 61






+

Israel: Cukupkah Momentumnya? Komisi Kahan yang dibentuk Pemerintah Israel Untuk menyelidiki pembantaian párrafo pengungsi Palestaina di Beirut Barat telah menyelesaikan kerjanya. Sebuah tonggak baru dentro Kehidupan Bangsa Israel ditegakkan telah. kekuasaan hukum Harus diletakkan di atas kekuasaan politik. Sebuah SIKAP menjunjung Tinggi Keadilan dengan segala konsekuensinya telah dikemukakan, cara dengan yang tidak membawa kepada Anarki politik, cara atau dengan yang TIDAK menghancurkan pemerintahan sendi-sendi. Bahkan sendi-sendi memperkuat UIT dari kemungkinan dimanipulasikan terlalu JAUH oleh berbagai kecenderungan politk yang ada. Komisi Pimpinan Ketua Mahkamah Agung Yitzhak Kahan UIT memang membawakan hasil yang mengejutkan. Perdana Menteri Begin dianggap telah lali melaksanakan tugasnya, yaitu memperhitungkan kemungkinan kaum Phalangis Tahu pembantaian Tres orangután penyerbuan Israel ke Líbano diputuskan telah juga bersalah. Kepala staf Tentara Israel Letjen Rafael Eitan sepenuhnya bersalah, karena Lalai memperhitungkan kemungkinan pembantaian, walaupun telah diberi nasehat Untuk mencegah masuknya kaum Phalangis ke Sabra dan Chatila, walaupun bahwa pembantaian telah terjadi. Direktur Intelejen Militer Yehoshua Saguy dipersalahkan Gagal memberikan nasehat kepada Pimpinan tertinggi Tentara Israel Untuk mencegah masuknya kaum Phalangis ke Sabra dan Chatila, walaupun ia menyatakan pendapat pribadinya bahwa pembantaian Akan terjadi kalau hal itu dibiarkan. Brigjen Amos Yaron, divisi komandan yang menduduki daerah Beirut, juga dipersalahkan membiarkan pembantaian terjadi, walaupun ia tahu bahwa hal itu terjadi. Yang menarik dari argumentasi Komosi Kahan, sebagaimana diulas majalah Tiempo adalah kategori kesalahan Israel UIT sendiri. párrafo pemimpin yang bersalah dinyatakan UIT telah bersalah Menurut Argumentasi ini, Walaupun kaum Phalangis (orang árabe) yang membunuh kaum pengungsi Palestina (árabe orangután), Israel bertanggung jawab karena UIT terjadi diwilayah yang menjadi tanggung jawab Israel dentro de un hal Privacidad y seguridad ketertibannya. Kita selalu mengajukan tuntutan serupa jika ada orangután Yahudi diperlakukan keji di tempat acostado, yaitu bahwa Bukan hanya pelakunya saja yang Harus bertanggung jawab, melainkan pemegang kekuasaaan juga Harus bertanggung jawab. Kita tidak boleh menghindarkan tanggung jawab ini, karena berarti melemahkan tuntutan peri kemanusiaan kita sendiri terhadap negra-negara yacido uraian Komisi Kahan. Sudah Bukan Rahasia Lagi, pemerintahan Comience dan Pimpinan militre Israel telah lama mencoba memandang Kehidupan politik negeri rupa sedemikian ini, sehingga tujuan mereka Akan (Erectz Ysrael) Yang Yang menguasai wilayah diudukinya (kecuali Líbano) de Dapat pengakuan secara de facto. walaupun melanggar perjanjian dan hukum iternasional mereka sendiri. Comience la nostalgia mengumandangkan Akan dari kemungkinan Serangan luar, Untuk merumuskan Tindakan yang sama. Tampaknya kecenderungan merekalah yang Akan mewarnai keputusan politik dentro pergulatan politik interna Israel, Keras Antara dan Lunak. Diamping Tradisi poitik Untuk menjunjung Tinggi Pertimbangan pihak Pimpinan Militer dan realisasi Janji Perjanjian Lama, Ada sebuah faktor yang mendorong Bangsa Israel kepada SIKAP Bangsa Israel kepada SIKAP memenangkan garis sulitnya Proses perundingan dengan pihak árabes mencapai Hasil konkrit, dan Semakin dari berasal meningkatnya jumlah penduduk yang TIDAK Eropa Barat dan Amerika. Penduduk Israel yang berdatangan dari Eropa Timur dan negara-negara Asia, disebut kaum sefardíes, Kini merupakn mayoritas Bangsa Israel, Dan dengan sendirinya kebencian Árabe terhadap apa yang dianggap budaya asing dari Barat juga mengilhami mereka menolak usul perdamaian Negara Negara-Barat. Namun kesemua kemungkinan akan menangnya Garis dentro Kehidupan politik Israel menjadi TIDAK Lagi pasti dengan adanya laporan Diatas Komisi Kahan. Pimpinan Militer kehilangan superioritas moralnya. Mereka terbukti bangkrut dentro menjaga palidez total de hal-hal Dasar bagi Kehidupan Massa dengan terjadinya pembantaian UIT. Comience impian juga Lalu Tampak konyol di hadapan kenyataan Akan semangat Bangsa Palestina Untuk menuntut hak menentukan nasib sendiri. Seperti dikatakan pendidik terkeuka dari Israel, Zvi Kesse, dentro de un wawancaranya dengan Newsweek. Masa depan Israel ditentukan oleh kemampuannya mencari penyelesaian yang Adil terhadap tuntutan Bangsa Palestina. Kitapun, Katanya, dahulu menginginkan UIT seperti Keadilan. Israel sudah terlalu lama Harus hidup dari militeristis je de calificación-je de calificación, yang Akan menghancurkan Israel sendiri sebagai konsekuensi menolak tuntutan Bangsa Palestina UIT. Pandangan waras seperti UIT dikemukakan Kesse UIT tentu memungkinkan tercapainya hasil kongkrit dentro perundingan perdamaian Untuk menyelesaikan sengketa árabe-israelí, Lalu diikuti oleh cukup Banyak orangután di Israel. Namun, cukuplah impulso yang diciptakan laporan komisi Kahan UIT Untuk mendorong Bangsa Israel secara keseluruhan kepada SIKAP yang Terbuka dan menjamin keamanannya secara kekal, yaitu mengembalikan eksistensi sebuah Bangsa dan negara Palestina? (Sumber: TEMPO 12 Maret 1983).




No comments:

Post a Comment